praharasenja

Akankah sirna sinar yang semakin redup itu?

Thursday, January 31, 2008

Jujur - 31 Agustus 2007

Jujur saya akui, sejak saya putuskan komunikasi denganmu, hari2 terasa sepi. Semua pekerjaan menjadi tidak lagi bisa saya nikmati karena jiwaku terbang bersamamu, merambah relung2 hatimu, menjangkau tempat2 indah yang pernah kita lalui bersama. Seperti katamu, andai saja diberi kesempatan kedua, saya akan lebih menyayangimu, lebih lunak terhadapmu, dan memberikan sepenuhnya kesempatan berkarir padamu.Tapi Apa mungkin ? karena semua telah berlalu, seperti air sungai yang sudah mengalir ke hilir, dapatkah kembali kehulu? Nasi telah menjadi bubur.

Banyak hal yg belum saya lakukan sama kamu. Banyak hal yang harusnya saya ajarkan kekamu, dan banyak hal yang harus saya gali dari kamu. Kesenjangan yang ada antara kita benar2 menjadi jurang yang memisahkan kita. Sebenarnya yang kita buthkan untuk semua itu adalah waktu dan kesabaran. Tapi sayang sang angkara murka terlalu cepat datang merenggut semua kebahagiaan dari kita.

Kini tak ada lagi sisa reruntuhan yang bisa kita bangun kembali, semua sudah menjadi debu.

Ingin rasanya kembali merajut kasih bersamamu, tapi saya tidak memiliki daya untuk itu. Saya ingin jadi orang baik saya harap kamupun begitu. Meskipun keinginan itu menggelora sampai detik ini pun saya berharap kita tidak sedang ada apa2. Tapi sayangnya hati saya tidak bisa saya butakan.

Disisi lain, saya juga ingin membuatmu bahagia, saya sering sedih jika mengingatmu, kamu tidak banyak menuntut apa2 dari saya, tapi saya begitu keras kepadamu. Hal ini juga jadi pertimbangan buat saya untuk ikhlas kehilanganmu, meski saya akan sangat kecewa, tapi saya berharap kamu dapat membangun rumah tangga yang baru seprti yang telah kamu cita2 kan bersama anak2mu dan kebahagiaanmu.

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home